Rabu, 28 September 2016

Kundalini Reiki



Aura, cakra, jalur sushumna, jalur nadi, jalur ida dan pingalai  merupakan unsur-unsur penting yang membentuk tubuh eterik. Dalam ilmu-ilmu esoteris tubuh eterik juga disebut tubuh gas. Tubuh gas merupakan hasil emanasi dari beberapa dimensi dalam tubuh fisik manusia. Tubuh manusia terdiri atas   lima dimensi, yaitu tanah,  air, udara,  api, dan  gas. Emanasi dari keempat dimensi itu menghasilkan tubuh eterik. Tubuh eterik mempunyai hubungan erat dengan aura, cakra dan jalur-jalur energi dalam tubuh fisik.
              Ulasan dalam bagian  ini lebih fokus pada fungsi  aura, cakra dan dampaknya bagi kesehatan tubuh, serta bagaimanan jalur-jalur energi bekerja dalam tubuh fisik, sehingga mempengaruhi kualitas kesehatan.
1. Aura
               Aura merupakan energi atau chi yang melindungi atau membungkus tubuh fisik manusia.Lalu bagaimana aura itu terbentuk?  Setelah menerima  attunement seorang praktisi  akan secara langsung berhubungan dengan energi Ilahi. Energi-energi  negatif akan dikeluarkan dari tubuh si praktisi, dan energi yang berada di sekeliling tubuhnya menjadi lebih tebal, kalau dilakukan latihan yang terus menerus. 
               Energi di sekeliling tubuh biasanya membentuk sebuah lapisan pelindung yang biasa disebut dengan aura. Dengan menebalnya lapisan pelindung itu, energi negatif atau pun penyakit akan lebih sulit untuk masuk ke  dalam tubuh si praktisi. Dengan demikian ia akan cenderung lebih sehat.
               Aura manusia terdiri atas aura dalam, aura kesehatan, dan aura  luar. Aura dalam merupakan lapangan energi terang dan bermacam-macam warna yang mengikuti kontur bentuk fisik tubuh. Orang normal dan sehat mempunyai aura dengan jarak kira-kira 10-13 cm dari tubuhnya. Akan tetapi jarak tersebut akan berkurang hingga kira-kira 5 cm atau lebih jika orangnya tidak sehat.
               Aura kesehatan atau sering disebut sebagai cahaya kesehatan berada di permukaan tubuh fisik. Di situ  terdapat cahaya bioplasmik yang menonjol dengan posisi garis tegak lurus. Cahaya ini dinamakan cahaya kesehatan yang saling menyelami dengan aura dalam. Kumpulan cahaya kesehatan ini disebut aura kesehatan. Jaraknya dari tubuh fisik sampai 60 cm dan berfungsi sebagai lapangan kekuatan pengamanan yang menjaga tubuh dari bakteri dan benda penyakit bioplasmik disekitarnya. Racun, sampah, bakteri dan benda bioplasmik dihancurkan oleh cahaya kesehatan terutama yang masuk melalui pori-pori kulit. Jika seseorang lemah, cahaya kesehatan akan layu dan menjadi kusut, maka seluruh tubuh gampang terserang penyakit. Penyembuhan bisa dilakukan dengan menguatkan dan merapikan cahaya kesehatan.
               Aura luar adalahlapangan energi berkilauan lainnya yang saling menyelami dengan aura dalam dan aura kesehatan yang biasanya berjarak 1 meter dari tubuh fisik. Warna aura ini dapat bermacam-macam dipengaruhi oleh keadaan fisik, perasaan dan mental seseorang. Pernah ditelusuri bahwa aura luar dari beberapa orang yang sakit mempunyai lubang dimana energiKi (kehidupan) atau prana merembes keluar oleh karena itu, aura luar bisa disebut juga sebagai medan kekuatan yang menahan dan menjaga bocornya energi prana.
  1. Fungsi Aura
               Aura berfungsi melindungi tubuh fisik dari energi negatif yang berasal dari luar tubuh. Efek yang ditimbulkan bila energi negatif telah menerobos masuk, tubuh fisik akan terganggu atau sakit sehingga akan terjadi hal-hal sbb:
-Kongesti/pembekakan aura
-Penipisan aura
               Penyakit fisik dapat dideteksi secara dini apabila telapa tangan seorang telah peka dalam mendeteksi kelainan pada aura. Biasanya yang terganggun lebih dahulu adalah aura seorang sebelum terjadi gangguan fisik/penyakit.
               Bagaimana  caranya untuk dapat mendeteksi aura, apakah mengalami kongesti atau penipisan? Dengan latihan yang cukup, maka telapak tangan bahkan jari-jari akan peka terhadap sentuhan aura yang sangat halus sekalipun. Pada waktu telapak tangan anda berhadapan satu sama lain latihan sederhana yang membuat tangan anda  peka adalah sbb:
  1. Santai dan tersenyumlah
  2. goyangkan tangan untuk pelemasan
  3. Bukalah telapak tngan dan tempatkan secara berhadapan
  4. Jauhkan kedua tangan selebar tubuh anda dan dekatkan secara perlahan-lahan dan santai.
  5. Ada tekanan antara kedua tangan
  6. Bila didekatkan tearasa ada arus atau getaran
  7. Rasakan juga pada ujung jari anda
  8. Latihan secara teratur dan tekun akan menambah kepekaan tangan.
B. Teknik membersihkan Aura
1. Teknik pembersihan aura harus dilakukan sebelum penyembuhan setelah Reiki.
2. Pembersihan aura sebelum terapi,  akan membuang energi negatif dan menyeimbangkan pola energi tubuh. Jika suatu saat, kepekaan tangan anda meningkat, anda akan merasakan tempat-tempat dimana terdapat energi atau getaran negatif dengan hanya menyentuh aura anda atau pasien anda.
3. Bila anda memberikan terapi ke pasien, usahakan pasien berada dalam posisi berbaring atau duduk dengan nyaman dan santai.
4. Saat anda menyalurkan energi Rei, usahakan dengan  memposisikan telapak tangan anda sekitar 10 cm diatas tubuh pasien, dan sisirlah tubuh pasien dengan satu atau kedua tangan dari posisi kepala ke kaki, dari kiri ke kanan tubuh. Lakukan hal ini dengan membayangkan aura pasien menjadi seimbang dan rata, semua energi dan getaran negatif mengalir keluar.
5. Pembersihan aura setelah  terapi Reiki sangat penting untuk di lakukan. Setelah menerima terapi energi Reiki, energi di dalam tubuh anda telah dimurnikan dan diperlancar aliran energinya. Dalam kondisi ini, tubuh anda akan dengan mudah menyerap semua energi yang ada disekitarnya, baik itu negatif maupun positif. Oleh karena itu anda wajib melakukan pembersihan aura setelah terapi Reiki agar energi negatif tidak menganggu keharmonisan pola energi sehat. Lakukan pembersihan aura dengan teknik yang sama ketika anda melakukan pembersihan aura sebelum memulai terapi.
6. Jika anda telah melakukan latihan Reiki shower, anda tidak perlu lagi melakukan teknik pembersihan aura ini.

2. Cakra
               Dalam bab sebelum sudah diuraikan tentang cakra sebagai pusat-pusat energi tubuh atau energi eterik pada tubuh manusia. Kita mengengal tujuh cakra utama, antara lain, cakra mahkota (di puncak kepala), cakra ajna (di antara kedua alis mata), cakra tenggorokan (di tenggorokan), cakra jantung (di tengah dada), cakra solar plexus (di atas pusar), cakra seks  (pada tulang pelvis), dan cakra dasar (di ujung tulang ekor). Selain itu ada juga cakra minor dan mini. Dalam bagian ini tidak akan diuraikan fungsi cakra atau bagaimana mengaktifkan cakra untuk menghindari pengulangan. Bahasan tentang cakra dalam bagian ini  ditempatkan dalam konteks hubungan dengan tubuh eterik (tubuh eter atau gas).
               Cakra merupakan gerbang energi yaitu tempat keluar masuknya energi dari dan ke dalam diri manusia. Melalui cakra-cakranya manusia melakukan pertukaran energi dengan alam semesta. Ketika anda membutuhkan energi dari alam semesta, maka energi tersebut masuk melalui cakra-cakra anda. Begitupun sebaliknya, ketika anda mengeluarkan atau mengirim energi ke  alam semesta, maka energi itu keluar dari tubuh melalui cakra-cakra anda.
               Manusia sebenarnya memiliki ribuan cakra, yang semuanya melekat pada jalur sushumna. Manusia yang berkesadaran rendah, cakra-cakra yang paling dominan adalah cakra solar plexus, cakra sex, dan cakra dasar. Sementara pada manusia yang telah mencapai kebersihan hati nurani, cakra yang berkembang  adalah cakra jantung. Sedangkan  pada manusia yang berkesadaran tinggi, semua cakra mayornya telah berkembang dengan sempurna.
               Setiap cakra mayor berhubungan dengan karakter  dan  kesehatan tubuh fisik. Ketika ada cakra yang menjadi kotor, maka orang tersebut  akan mengalami masalah dalam pengendalian sifat dan karakter yang berhubungan dengan cakra itu.
               Lalu bagaimana korelasi cakra dengan kesehatan tubuh fisik. Bersihnya semua cakra mayor biasanya didukung oleh bersihnya jalur eteris dan ini berpengaruh pada kelancaran aliran energi. Selanjutnya aliran energi yang  lancar berpengaruh pada kualitas diri, kedasaran, dan kesehatan manusia. Itulah sebabnya pembersihan cakra mayor dan jalur eteris menjadi penting untuk dilakukan, agar dapat mencapai peningkatan  kualitas diri, kesadaran dan kehidupan yang maksimal.
3. Jalur Nadi
               Selain pintu-pintu khsusus (cakra) yang telah disebutkan di atas, anda juga mengenal jalur khusus energi eterik yaitu nadi. Sebagaimana pembuluh darah bertugas menyalurkan darah, nadi bertugas untuk menyalurkan energi Ki atau Chi  ke seluruh tubuh.
               Nadi terbesar pada manusia adalah nadi yang terletak di tengah-tengah tulang belakang, yang disebut  dengan  jalur sushumna. Nadi besar berikut adalah Ida dan Pingala yaitu jalur dingin dan jalur panas yang terletak di samping kiri-kanan dari jalur sushumna. Kedua nadi ini adalah penyeimbang panas dinginnya energi pada sushumna  atau seluruh tubuh.
               Apabila diantara kedua nadi ini salah satunya tidak seimbang   yang terjadi adalah  tubuh anda akan terasa panas sekali atau dingin sekali. Untuk itu harus diseimbangkan dengan meditasi  atau grounding. Contohnya, tangan kanan dan tangan kiri saling berhadapan satu sama lain. Lalu niatkan dari tangan kanan  mengalirkan energi panas ke tangan kiri. Sebaliknya dari tangan kiri mengalirkan energi dingin ke tangan kanan selama kurang lebih 10 menit.
               Saluran yang kiri, ida  nadi terletak pada sistem  nerves simpatik kiri diri anda. Sisi ini memunculkan sisi feminin atau Jalur Bulan, dan sisi ini adalah melambangkan masa lalu anda. Sisi ini juga yang mengatur emosi anda. Secara fisik  sisi tubuh kita diatur oleh jalur ini.Sisi kiri atau Ida Nadi melambangkan  keinginan murni  untuk mencari kebenaran.  Ketidaksesimbangan sisi ini atau  orang yang terlalu berat pada sisi kiri  akan selalu berada  dalam tekanan atau mudah terpengaruh oleh suasana. Inilah awal dari depresi karena hasrat dan emosi untuk memenuhi keinginan diri yang tiada  habisnya.  Tradisi Cina menyebut  sisi ini dengan aspek Yin (bulan/dingin/negatif). Dalam gambar Yin dan Yang, yang berwarna hitam sifatnya dingin.
               Jalur Bulan ini bermula di cakra mooladhara (cakra dasar), tepatnya cakra minor anus anda, dan naik di sisi kiri, memotong cakra ajna dan membentuk superego di belahan otak kanan. Ia membawa masuk  ke dalam kesadaran manusia ingatan akan masa lampaunya  untuk menunjang semua tindakannya. Sepanjang jalur ini tetap aktif, maka manusia memiliki keinginan untuk tetap hidup. Pengalaman masa lampau disimpan sebagai superego dan mempengaruhi semua pertimbangan kita.
4. Nadi Pingala
               Saluran di bagian kanan ini disebut “Pingala Nadi”. Bertempat di sistem nerves simpatetik kanan. Ini  dilambangkan dengan matahari, aspek maskulin dan masa depan.   Secara fisik jalur  ini memberikan aspek tindakan   dan kapasitas mental untuk analisa dan pertimbangan. Ini adalah sumber kreativitas  artistik, mengatur semua organ yang beradda di bagian tubuh kanan anda.
               Orang yang berat pada sisi  kanan ini mempunyai mental yang berani dan selalu memandang ke masa depan tanpa menghiraukan masa lalu, sangat aktif dan penuh perencanaan. Sisi buruknya adalah orang-orang seperti ini menjadi sangat ego dan agresif, gila akan kekuasaan. Orang Cina menyebut jalur ini  sebagai  jalur “Yang”  (sisi terang, panas/positif), tepatnya pada cakra minor ujung dari alat vital anda. Itu sebabnya energi dan api Kundalini dapat dengan mudah diakses melalui kedua jalur ini, karena letak gulungan Kundalini berada antara anus dan organ reproduksi. Dalam tradisi Tantrik Yoga  pembangkitan kekuatan api Kundalini dapat dilakukan dengan mengelola kekuatan seks.
            Jalur ini dikenal dengan nama Jalur Matahari. Ia bermula pada cakra swadhistana (cakra seks) naik disisi kanan memotong cakra ajna dan membentuk ego di belahan otak kiri. Ia menyediakan  saluran bagi energi aktif yang mencakup kegiatan mental dan fisik kita.

Minggu, 18 September 2016

Meditasi dalam terang ajaran Teresa Avila, meditasi dalam bentuk apa pun, apabila hanya cenderung berfokus pada tehnik, perlu diwaspadai

Oleh: Rm. Maximilian Kerit, CSE

Belajar dari spiritualitas dan penghayatan hidup doa dari Santa Teresa Avila, meditasi kristiani memiliki beberapa karakteristik, yakni: afektif, atentif, Kristus sebagai pusat, dan kontemplasi sebagai arah. Berikut ini sedikit uraiannya yang diambil dari tesis saya “Meditasi Kristiani dalam Terang Mistisisme Santa Teresa dari Avila” .

1. AFEKTIF

Bagi Teresa, doa ialah soal suatu percakapan, suatu dialog, suatu omong-omong dengan seorang Sahabat yang mencintai kita. Sahabat di sini ialah Allah sendiri. Jadi, suatu percakapan dengan Kristus dan Bapa dalam Roh Kudus. Oleh karena itu, bagi Teresa ketika orang berdoa yang dibutuhkan bukanlah banyak berpikir, melainkan banyak mencinta. Sedapat mungkin orang jangan sampai kehabisan kata-kata penuh kasih yang dapat dinyatakan kepada Bapa dan Kristus. Perbuatlah apa pun yang dapat mendorong untuk dapat semakin mencintai Dia. Gambar-gambar Kristus dan kisah-kisah hidup-Nya yang dinyatakan dalam Kitab Suci, juga sarana-sarana rohani lain, hendaklah dipakai dalam doa sejauh itu dapat membangkitkan rasa devosi dan cinta kepada Allah. Sebab doa dalam bentuk apa pun, termasuk juga meditasi, tidak lain dimaksudkan agar kita dapat semakin bersatu dalam kasih dengan Allah. Dengan demikian, kita pun menjadi paham bahwa ada semangat kontemplatif di balik semangat afektif yang ditekankan Teresa ini. Ternyata orientasi afektif ini memang membuat jiwa jadi kondusif dan terbuka untuk menerima rahmat kontemplasi, seperti yang sudah terbukti dalam hidup Teresa sendiri.

2. ATENTIF

Menurut Teresa, kesadaran dan perhatian menjadi bagian penting yang harus diperhatikan ketika orang mau berdoa. Kesadaran dan perhatian harus diarahkan pada Allah dan selalu dijaga untuk terus menyadari: apa yang sedang kita bicarakan, kepada Siapa kita berbicara, dan siapakah kita ini di hadapan Dia yang kepada-Nya kita sedang berbicara. Sikap batin yang tepat seperti inilah yang harus terus diperhatikan dan dihayati apabila orang mau berdoa. Hanya kesadaran dan perhatian seperti itulah yang membuat doa menjadi sebuah doa. Apabila kesadaran seperti ini belum ada, orang bisa dikatakan belum benar-benar berdoa.

Indera-indera, baik yang lahiriah maupun yang batiniah, perlu dipusatkan dan diarahkan kepada Allah. Misalnya, telinga (indera lahiriah) perlu diarahkan untuk terus mendengarkan pada kedalaman jiwa, suara Tuhan yang begitu lembut. Kehendak dan ingatan (indera batiniah) perlu diarahkan untuk mencintai dan mengingat Tuhan yang hadir dan yang selalu mau berbincang-bincang dengan kita pada kedalaman jiwa. Semangat atentif ini pada akhirnya perlu bermuara pada kehendak yang kian tumbuh untuk mencintai Tuhan. Atentif ini membawa kita pada resolusi, pada niat yang makin besar dan suci untuk mencintai dan mengabdi Tuhan. Atensi (perhatian dan kesadaran) dan niat sungguh-sungguh penting dalam hidup doa.

3. KRISTUS SEBAGAI PUSAT

Penghayatan doa dan meditasi Teresa amat bercorak “Kristus-sentris”. Seluruh hidupnya dibaktikan agar dia dapat semakin mengenal, mencintai, dan mengabdi Kristus. Bagi Teresa, Kristus sungguh merupakan “Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan” (lih. Yoh. 14:6). Hal ini sungguh dia hayati dengan konstan dan konsisten dalam hidup doanya.

3.1. Kristus yang Biblis

Dalam penghayatan hidup doanya, Teresa benar-benar telah menjalin persahabatan dan relasi dengan Kristus sebagaimana yang diwartakan dalam Kitab Suci. Misalnya, Kristus sebagai Jalan untuk mengenal Bapa, sungguh-sungguh dihayati dan amat ditekankan dalam ajaran-ajarannya. Begitu pula, Kristus yang menderita, yang diwartakan Kitab Suci dalam peristiwa Yesus berdoa di taman Getsemani, merupakan tema meditasi yang amat disukai Teresa.

3.2. Doa yang Baik ialah melalui Kristus

Di sepanjang perjalanan hidup doanya, dalam seluruh dinamika hidup mistiknya, persahabatan dengan Kristus sungguh menjadi agenda terpenting bagi Teresa. Bapa telah memberi diri-Nya dikenal melalui Kristus. Jalan untuk mengenal Allah ialah Kristus sendiri. Maka, doa yang makin otentik ialah doa yang makin bersatu dengan Kristus. Oleh karena itu, Kristus amat penting bagi setiap orang yang mau berdoa dan yang mau mempraktikkan meditasi yang kristiani. Pada tingkatan apa pun, entah itu pemula maupun yang telah maju dan yang telah mencapai kontemplasi, Kristus selalu penting dalam doa dan meditasi yang kristiani.

3.3. Kemanusiaan Kristus

Bagi Teresa kemanusiaan Kristus benar-benar sarana terbaik agar orang dapat bertumbuh dalam hidup doa. Devosi pada Kristus dan persahabatan dengan-Nya dapat menjadi persiapan yang terbaik agar jiwa dapat menerima rahmat kontemplasi. Mengapa? Sebab, Kristus ialah Allah yang menjadi manusia. Dengan menjadi manusia, Dia jadi Sahabat sekaligus Guru kita. Sebagaimana diuraikan Teresa dalam refleksinya tentang doa “Bapa-Kami”, Kristus tidak hanya mengajari kita berdoa, tetapi Dia juga berdoa bersama kita. Seluruh ajaran Teresa yang mendalam tentang hidup doa, mengalir dari persahabatan Teresa dengan-Nya. Kristus sendirilah yang sebenarnya mengajarkan kepada Teresa lorong-lorong doa yang mendalam. Oleh karena itu, dalam hal praktis, Teresa menyarankan kita untuk mengenal wajah Kristus, mengenal apa yang diperbuat-Nya ketika Ia menjadi manusia. Terlebih lagi, Teresa menghendaki agar kita mengenal dan menyadari penderitaan dan pengurbanan-Nya bagi kita. Kristus hendaklah menjadi figur yang selalu penting bagi siapa pun yang mau berdoa secara lebih serius dan mendalam. Meditasi kristiani beranjak dan bermuara pada persatuan dengan Kristus.

4. KONTEMPLASI SEBAGAI ARAH

Meditasi yang dihayati Teresa pada akhirnya menghantar Teresa pada kontemplasi. Semangat afektif yang dihayati Teresa ternyata cocok bagi situasi dan kondisi jiwanya sehingga dia menerima rahmat demi rahmat yang akhirnya membawa dia pada kontemplasi. Memang kontemplasi itu merupakan rahmat yang cuma-cuma dari Allah. Namun, bagi Teresa, ini bukan berarti kita tidak berbuat apa-apa untuk menerima rahmat itu. Kita perlu membuat jiwa kita makin kondusif dan makin terbuka menerima rahmat kontemplasi ini. Dalam hal ini, Teresa menempuh jalan active recollection. Meditasi Teresa yang afektif bukan lain merupakan upaya yang dapat dilakukan jiwa agar dirinya makin kondusif untuk menerima rahmat kontemplasi.

5. HARUS DIWASPADAI

Meditasi yang dilakukan Teresa sebenarnya amat sederhana. Teknik bagi Teresa tidak begitu penting. Yang penting ialah soal disposisi batin yang diarahkan pada Kristus. Orang tidak harus duduk bersila ketika mau berdoa. Memusatkan diri pada Allah bisa dilakukan di mana pun dan pada saat apa pun. Teresa hanya mengajarkan agar kita semakin menumbuhkan semangat cinta. Hal ini dapat dilakukan oleh siapa pun. Lain halnya dengan cara mengatur posisi tubuh yang ketat. Tidak semua orang bisa melakukannya. Dalam terang ajaran Teresa, meditasi kristiani dalam bentuk apa pun, apabila hanya cenderung berfokus pada tehnik, perlu diwaspadai. Begitu juga praktik-praktik yang semakin menjauh pada Kristus, perlu diwaspadai dan dicermati.
https://m.youtube.com/watch?

Kamis, 01 September 2016

Apa yang Engkau Minta Maka itu yang Engkau Peroleh, Kendati saat Meditasi sekalipun.

~ DOA ~

+
Hati Yesus Yang Maha Kudus,
aku menyerahkan diriku pada hati-Mu Yang Maha Kudus pada hari ini. Kuasailah seluruh pribadiku, ubahlah aku menjadi seperti Engkau. Jadikanlah tanganku menjadi tangan-Mu, kakiku menjadi kaki-Mu, hatiku menjadi hati-Mu.
Ijinkanlah aku melihat dengan mata-Mu, mendengar dengan telinga-Mu, berkata-kata dengan bibir-Mu, mengasihi dengan hati-Mu, memahami dengan pikiran-Mu, melayani dengan kehendak-Mu dan mengabdikan seluruh kepribadianku.
Jadikan aku serupa dengan Engkau.
Hati Yesus Yang Maha Kudus, utuslah Roh Kudus-Mu untuk mengajar aku agar mengasihi-Mu dan hidup melalui Engkau, dalam Engkau dan untuk Engkau.

Datanglah Roh Kudus, jadikan tubuhku bait-Mu. Datanglah, dan tinggallah dalamku selamanya. Beri aku kasih terdalam kepada Hati Yesus Yang Maha Kudus untuk dapat melayani Dia dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatanku.
O Roh Kasih Yang Kudus, beri aku rahmat-Mu yang ampuh itu dengan berlimpah.
O Trinitas Yang Maha Kudus, jadikanlah jiwaku bait-Mu yang kudus.
Amin +

† Per Christum et cum Ipso et in Ipso

3 Cerita Pendek Zen Mengungkapkan Palajaran Terbesar.

Cerita Zen seringkali singkat, tapi penuh akal dan kebijaksanaan. Mereka adalah bagian besar dari apa yang membuat tradisi ini menarik dan ...